Satu Mulut dan Dua Telinga

Ini ceritaku di hari Minggu bulan Desember 2010..

Waktu menunjuk pukul 5:47 PM. Alahamdulillah, udara dalam deru napasku menentramkan otakku. Yup, banyak oksigen sehingga pikiran juga tenang berpikir. Jiwaku melayang, terbuai cinta dalam dekapan ukhuwah. Pengennya sih cinta yang spesial layaknya sang gadis remaja menemukan pangeran impiannya. Sayang sekali (dan bersyukur berkali-kali) belum ketemu sampe sekarang. Hehehe.
Inilah cinta persaudaraan yang dirajut oleh persamaan asal-usul. Jombang tercintaaa. Akulah anggota IM'UIJO (Ikatan Mahasiswa' Universitas Indonesia Jombang), yiipii. Sekarang sesi menceritakan tetua kami yang dibawah angkatan 2008 dan tidak bisa saya sebutkan satu persatu (berasa ucapan terimkasih skripsi -.-), aku  dan cintaku pada konco-konco seperjuangan 2008 (Berani Bermimpi, Berani Realisasi!! huh hah), juga  tentang adek-adekku (krucil) 2010 (apaan ya jargonnya?? hehe).
Indah rasanya sebuah bulir air mata ketika ia mengalir dari pernyataan-pernyataan maaf dan khilaf namun menjadi bukti untuk menjalani persaudaraan yang lebih baik. Lapang dada ini ketika merasakan rangkulan tangan mereka dalam pundak-pundak yang selama ini lelah oleh caci dan buruk sangka. Merekah semangat ini ketika tertawa bersama menginjak kebodohan dan salah paham. Ini semua hasil kedua telinga kami, dan satu mulut kami. Yap, mungkin seseorang tercipta dengan DUA TELINGAN DAN SATU MULUT untuk itu memahami makna persadaraan dan kebersamaan. Mungkin, seseorang memang dituntun untuk mendengarkan, tapi ketika ia tidak mampu mendengar dengan baik adakalanya bicara menjadi cara yang efektif dalam meredam kesalahpahaman. Ah, Alloh terlalu mencintai kami sampai akhirnya kesalahan pun menjadi jalan dalam memperkuat ukhuwah kami semua.
Itulah kami dan dinamika persaudaraan kami. Kami tertakdir meraih pengetahuan yang lupa menanggalkan kebodohan, kami tumbuh dengan kebersamaan yang kadang menghindari asyiknya berkomunikasi, kami membangun semangat dan tanpa sengaja terkadang meruntuhkannya dengan cela dan salah sangka. Inilah kami, tak akan pernah sempurna menjadi jika sendiri. Namun, akan bahagia ketika bersama.


Yah yah yah, aku pribadi nih jadi keingat kawanku K***. Air mataku.. mungkinkah melarutkan lukanya. Jabatan tanganku, apakah memberikan kehangatan jalinan ukhuwah pada tubuhnya. Aku bersalah, aku tertunduk, dan aku malu. Maafkan aku kawan, kau tak dapat merasakan indahnya dekapan persaudaraan dari lakuku. Aku tahu hatimu terlalu lembut untuk sekedar memaafkanku. Alloh selalu mencintaimu dengan memberikan ruang yang sangat lapang pada maafmu. Semoga kelak, Alloh memberikanku kesempatan untuk masuk dalam hatimu, memberikan cerita tentang indahnya persahabatan, dan tertawa karena kebersamaan diantara kita. Aku berjanji, tak akan melupakan kesalahanku dan juga tak akan melupakanmu bahkan ketika masa itu datang..

Komentar

Postingan Populer