Mia Siscawati: Si Malaikat Penjaga Alam
Waktu luang memang sebaikanya digunakan untuk membaca. Menurut saya membaca yang diidentikkan dengan membaca bahan-bahan pelajaran bukan suatu hal yang menarik. Saya berpendapat bahwa membaca pun tidak hanya sebatas mengeja huruf-huruf, bahwa semua hal yang berada di sekeliling kita –tumbuhan, rumah, mobil, dan lain-lain- dan pengalaman-pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain hendaknya dapat kita baca. Mungkin dalam Islam hal ini dapat diartikan sebagai tafakur, yakni merenungi tentang semua hal yang ada disekeliling kita untuk kemudian memikirkan apa arti dibalik semua hal yang kita lihat tersebut. Gagasan awal saya ini merupakan salah satu hasil “membaca” pengalaman ketika pertemuan dengan sosok mengagumkan yang saya sebut sebagai malaikat penjaga alam.
Entah kenapa saya senang menyebut sosok itu dengan malaikat. Saya berpendapat bahwa orang jahat merupakan sifat yang sangat manusiawi, karena terinternalisasi dalam pikiran saya bahwa janji Iblis untuk membelokkan arah manusia dari jalan Tuhan akan terjadi sampai kiamat nanti, oleh karena itu sifat buruk atau jahat manusia adalah keniscayaan. Namun ketika membaca sifat baik orang maka saya mengkategorikan orang tersebut dalam kategori orang yang tidak biasa, Ketika banyak orang masuk dalam bujuk rayu Iblis, ternyata beberapa diantaranya tidak, bukankah itu suatu hal yang luar biasa. Oleh karena itu saya mengkategorikan sosok ini sebagai manusia yang tidak biasa.
Kemudian mengapa malaikat? Malaikat diciptakan dengan kebaikan tanpa sifat egois untuk membanggakan dirinya. Pekerjaan utamanya adalah memberikan rahmat yang diamantkan dari Tuhan, artinya selalu membawa kebaikan bagi manusia. Nah ketika manusia dapat menekan egoisme untuk berbangga diri -padahal dia bukan malaikat yang diciptakan sengaja tanpa sifat tersebut- dan bertindak setiap hari –bukan mendefinisikan dirinya sedang bekerja- untuk kebaikan orang lain maka pantas sekiranya seseorang tersebut dipanggil malaikat. Walaupun sebenarnya lebih tepat tidak dipanggil malaikat, karena tidak ada kata yang tepat untuk melukiskan manusia luar biasa dengan kata diatas malaikat maka cukuplah kata tersebut melukiskan bahwa sosoknya merupakan pribadi yang tinggi.
Yang saya ingin lanjutkan lagi adalah mengenai membaca, pengalaman ini benar-benar membaca dalam artian sebenarnya, yakni mengeja huruf-huruf. Saat online dan membaca beberapa blog orang, saya menemukan hal yang menyulut otak saya untuk berpikir dan mengingatkan saya pada malaikat penjaga alam yang pernah saya temui. Tidak sengaja mata saya menangkap tulisan seorang blogger dengan judul “hanya sekedar catatan”, dia menuliskan catatannya sebagai berikut:
‘Kalau go green jangan go blok’, kemudian dijelaskan dengan sedikit deskripsi, “setiap produksi 1 ton kertas menghasilkan gas karbondioksida sebanyak kurang lebih 2,6 ton. Jumlah ini setara dengan gas buang yang dihasilkan sebuah mobil selama 6 bulan. produksi 1 ton kertas menghasilkan kurang lebih 72.200 liter limbah cair dan 1 ton limbah padat”
Hasil membaca tersebut terbenam dalam pertanyaan-pertanyaan saya tentang seberapa banyak pohon yang telah ditebang untuk produksi 1 ton kertas, ditambah lagi produksi kertas ternyata menghasilkan gas karbondioksida yang luar banyak, nah lantas bagaimana gas tersebut dapat dinetralkan kembali ketika pohon-pohon telah ditebang untuk produksi kertas sebelumnya? Pertanyaan yang terjawab hanya sebatas dengan rasa sesak dalam diri saya. Inilah yang menjadi pembeda antara saya dengan malaikat penjaga alam. Mungkin kesesakan saya dari hasil “membaca” juga dirasakan oleh sang malaikat. Suatu masa di tahun 1987 di SMAN 1 Jakarta sang malaikat memiliki hobby naik turun tebing. Ketika itu pergilah sang malaikat bersama teman-temannya menaiki tebing x (saya lupa menanyakan nama tebingnya J).
Hamparan pemandangan yang indah diakui menentramkan hatinya, kesenangan luar biasa didapatkan ketika ia berada diatas dan dapat melihat keindahan alam semesta dari atas tempat tersebut. Nah, perasaan-peraasaan menakjubkan tersebut mendorong sang malaikat beserta teman-temannya ingin kembali menaiki tebing. Ketika sang malaikat kembali ia tidak menemukan tebing tersebut dalam kondisi semula. Atas tebing tampak hilang bersamaan dengan hilangnya kejelasan mendengar suara karena bising mesin peledak. Sang malaikat melihat tebing-tebing tersebut dihancurkan, dengan alasan ekonomi maka tebing yang memiliki kadar kapur tinggi tersebut dikomoditaskan dala pasar. Itulah momen ketika sang malaikat merasakan sesak yang begitu luar biasa dalam dirinya.
Tindakan selanjutnya merupakan pembeda antara saya dengan sang malaikat. Seusai membaca blog tersebut saya menghela napas dan memasuki ruang kelas untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya. Sang malaikat tidak berhenti pada menghela napas, ia bertindak secara langsung. Bertolak dari membaca pengalaman tersebut ia berpikir tentang bagaimana caranya menyadarkan orang tentang kejahatan yang luar biasa dilakukan kepada alam tempat kehidupan semua manusia berada. Akhirnya ia menggalang relawan-relawan untuk bergerak mengkampanyekan dan memberikan pengetahuan tentang kesadaran lingkungan alam. Tindakan tersebut terus ia lakukan walaupun berada dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda, tidak dalam konteks SMA, maka ia membawa pergerakannya dalam ranah perguruan tinggi ia berada, yakni fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor pada tahun 1994.
Sang malaikat menebarkan jarring kebaikan di manapun ia berada, mungkin tanpa sadar ia sedang berlomba dengan Iblis dengan tujuan yang berbeda. Semakin hari sepak terjang dan pengaruh atas gagasannya bahwa masyarakat perlu memiliki pendidikan tentang lingkungan alam semakin mewabah. Tak tanggung-tanggung namanya pun di kenal sampai mancanegara, menurut saya tidak perlu egoism dan keinginan untuk membanggakan diri, bahwa dengan gagasan kebaikan untuk orang lain maka seseorang akan tampil di muka umum dengan nama besarnya dengan tetap menjaga kerendahan hatinya. Sang malaikat diakui dunia sebagai seorang wirausahawan sosial yang merintis model pendidikan lingkungan pembaharu, yang menggalang jaringan relawan, pendidik, dan orangtua sebagai pengantar maupun penerus cita-citanya untuk melindungi alam, khususnya melestarikan keberagaman hayati Indonesia. Jika anda belum mengenalnya maka sekiranya saya dapat menyebutkan namanya, sang malaikat penjaga alam tersebut adalah Mia Siscawati, seorang yang lahir di Jakarta pada 29 Mei 1969.
Sang malaikat memanfaatkan akumulasi pengetahuan yang dimiliki, bahwa sebuah gagasan yang abstarak harus dilakukan sesuatu agar menjadi hal yang konkrit. Oleh karena itu pada tahun 1992, sang malaikat dengan didukung teman-teman mendirikan Rimbawan Muda Indonesia [RMI-The Indonesian Institute for Forest and Environment], lembaga swadaya masyarakat yang mempunyai visi “mewujudkan kedaulatan rakyat, perempuan dan laki-laki, atas tanah dan sumber daya alam serta pengelolaan sumber daya alam mereka secara adil, setara, demokratis, dan berkelanjutan”.
Melalui RMI, sang malaikat memprakarsai suatu model pendidikan pembaharu yang bertujuan membangun pengetahuan masyarakat luas tentang lingkungan. Sang malaikat berkeyakinan, bahwa melalui jaringan pendidikan lingkungan yang meluas dan berkelanjutan, suatu gerakan lingkungan dapat dihidupkan di Indonesia, yang mana pada gilirannya kelak akan memupuk sikap hidup yang ramah pada lingkungan dan sayang pada keberagaman hayati. Menurutnya, pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan serta mengelola sumberdaya alam secara baik dan benar hanya dapat dipupuk melalui pendidikan.
Inilah pembeda selanjutnya jejak langkah sang malaikat, ia bertindak dengan strategi yang telah matang dan keyakinan yang kuat. Tidak mudha membangun suatu jaringan atau kelompok yang dibentuk secara sengaja mengikuti gagasan dalam diri kita. Tapi sang malaikat membuktikan bahwa dengan strategi matang dan keyakinan semua akan ada jalannya dan berujung pada pembuktian bahwa semua hal terjadi sesuai dengan keyakinan yang dipegang teguh. Antara tahun 1994 dan 1995, lebih dari 3.000 pelajar berpatisipasi di program pendidikan lingkungan binaan sang malaikat. Tidak berhenti dengan kebanggaan tersebut, sang malaikat melebarkan gagasannya ke ranah lain. Sang malaikat mendirikan Kampung Pendidikan Lingkungan’ [KP] di desa Cimande yang berada di kaki gunung Salak, Jawa Barat. Rampung pada tahun 2002, tujuan awalnya adalah menyelenggarakan pendidikan lingkungan secara terpadu.
Pada perjalanannya, KP kemudian berkembang lebih jauh menjadi penyelenggara training, seminar dan workshop yang berhubungan dengan pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan program-programnya yang unik dan menggunakan media lingkungan. Program sang malaikat yang lain adalah ‘Kedai Halimun’, sebuah tempat untuk mengakses dan bertukar informasi tentang bagaimana mengelola sumberdaya alam dan menjaga keberagaman hayati, sebagaimana dipraktekkan oleh masyarakat-masyarakat yang hidup di lingkungan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, yang bisa menjadi percontohan bagi masyarakat-masyarakat di lokasi lain. Di kedai ini pun masyarakat dapat membeli berbagai produk tani asli kawasan Halimun dan sekitarnya, seperti gula aren, kopi ‘misdok’ khas Halimun, beras asli Citorek dan madu hutan Baduy.
Sayap sang malaikat mampu menjangkau ruang dan waktu yang tak terbatas. Kebaikannya membawa manfaat luar biasa kepada banyak orang. Pertnyaannya apakah kita semua bisa membaca keberadaannya untuk kemudian menauladaninya?
Nb. Terimakasi kepada Bapak Dosen saya, Imam Prasodjo, serta Ibu Dosen saya di kelas Pengabdian Masyarakat. Mata kuliah ini mengajarkan saya untuk “membaca” dan tentu mendorong saya untuk bertindak. (salam action!)


Komentar
Posting Komentar