I am Not Special, I am just Specialized

Aku anak kontrakan. Tahukah kalian, satu saudara kontrakanku adalah seorang perempuan terkenal. Berinisial IMR, sangat terkenal dalam setiap masa pendidikannya. Tidak mengherankan karena perempuan itu sangat pandaiii. Aku masih ingat, di setiap hari senin saat selesai upacara bendera, melalui pengeras suara namanya seringkali disebut untuk maju menerima penghargaan atas keberhasilannya memenangkan berbagai jenis perlombaan. Kalian tau di saat-saat itu aku sedang apa? Aku mendengar cerita di barisan kelasku tentang film-film yang teman-temanku tonton weekend kemarin. Aku terhentak, aku bukan orang yang spesial.

Saudara kontrakanku yang lain. Berinisial LFH. Pengetahuannya sangat luas, mulai dari agama sampai ilmu umum. Ia pandai berkomunikasi, terbukti dengan kemampuannya menyabet emas dalam perlombaan debat bahasa sekaligus the best speaker. Sejak kecil ia menimba ilmu agama di pondok pesantren, sehingga setiap kali kami saudara kontrakan bingung menghadapi masalah maka mereka adalah rujukan yang menjelaskan fiqih dari permasalahan-permasalahan tersebut. Dalam pembahasan-pembahasan kami, aku mendengar, dan ia memberi penjelasan. Aku terhentak, aku bukan orang yang spesial.

Aku mahasiswa. Tahukah kalian, siapa teman sekaligus sahabatku di awal menghadapi cultural shock kampus terkenal ini? Dia, RAU. Seorang yang supel dan ditunjang dengan kemampuannya mengingat setiap nama mahasiswa baru yang ada didekatnya saat aku hanya mampu menggingat nama-nama anggota dalam kelompok ikatan daerah kami. Dia yang menjadi seorang Mapres Fakultas saat IPku jauh dari cumlaude. Aku terhentak, lagi, aku bukan orang spesial.

Ada lagi, sahabat yang menemani langkah-langkahku dan mewarnai mozaik masa kuliahku. DKA, seorang perempuan tegar penuh komitmen dan cerdas sekaligus sholehah. Ia seorang gadis rendah hati yang siap sedia menebar kebaikan-kebaikan bagi orang yang berada disekelilingnya. Seringkali, ketika musim panen atas hasil kebaikan-kebaikannya aku diikutsertakan olehnya. Ia sendirian menanam, tapi ia mengajakku menuai hasilnya. Aku terhentak, lagi-lagi, aku bukan orang spesial.

Aku bercermin dan menangis. Menangisi ketidakspesialanku. Mencemooh dan mengumpat diriku sebagai bagian dari kufur nikmatku pada sang Pencipta. Aku terhentak melihat foto kedua orang tuaku, pernah suatu ketika Bapakku berkata, "Pak Suyut tadi bilang, wah hebat sekali putrinya Pak Karno, udah pinter bisa kuliah di UI eh gak pernah minta uang pula ke orangtuanya. Beda sekali sama anak saya Pak No. Bapak cuman bilang, anak siapa dulu.. anakku." Saat itu Ibuku menimpali, "yailah, kalau gitu aja bilang anakku, Ayu kan anakku juga. Bilang juga harusnya, iya donk anak Ibunyaa." Mereka berdua tertawa, aku miris mendengar guyonan mereka. Orang tuaku belum tau bahwa aku bukan orang yang spesial. Tapi melalui mereka aku sadar bahwa aku memang bukan orang spesial, tapi aku seorang yang sangat khusus bagi mereka. Ah, kenapa aku tak menyadarinya dari dulu. Rabbi, terimakasi atas segala-galanya bahkan semua-muanya. Terimakasi atas keahlianku sekaligus ketidakmampuanku, terimakasi atas kelebihanku sekaligus kekuranganku, terimakasi atas kepandaianku sekaligus kebodohanku. Terimakasihku padaMu Rabb penguasa Segalanya, dan terimakasi kepada orang tuaku. 

Kuuluas senyum dan kunyatakan dengan bangga, aku bukan orang yang spesial tapi sangat khusus. ^^ 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer