Garansi Pacaran??

Bismillah, semoga keimanan selalu menghujam dalam rasionalitas.. dan dalam hati (perasaan). Amin.

#Mozaik 1
Kita bertemu, kau memakai baju seragam SMA. Tersenyum sembari menyapa ramah. Aku balas tersenyum mengakhiri pertemuan singkat kita.

#Mozaik 2
Kita bertemu, kau membawa keranjang berisi bunga. Kau mengucapkan salam perpisahan. Aku hanya diam menandai perpisahan kita.

#Mozaik 3
Kita bertemu, kau hanya diam ditengah kerumunan teman. Aku menghampiri semua teman kita, dan juga kau, untuk mengucapkan maaf dan selamat tinggal. Kau berkata lirih kau tak bisa mendengar kata terakhirku. "Semoga yang terbaik baik kita," ku ulang kata-kataku. "Apakah kita bisa mencoba dari sekarang?" ucapmu tetap lirih. Kau memilih menyingkir dari canda tawa teman-teman kita. Mungkin kau merasa bukan saatnya masalah seperti ini dikonsumsi publik. Aku berpikir, haruskah aku mengikuti langkahmu meski aku ingin sekali. Atau aku lebih baik diam saja seperti biasanya, sebagai tanda berakhirnya pertemuan kita. Aku masih terdiam, hanya berpikir, harusnya kau tak mengatakan ini. Ah, kau sepertinya sudah terlalu lama menunggu hingga kau menghampiriku.

Aku menarik ujung bawah tangan bajumu sambil berucap maafkan aku. Aku berhati-hati untuk tidak menyentuh kulitmu, apalagi menyakiti hatimu. Kau menatapku, kualihakan lagi ke ujung tangan bajumu yang masih belum aku lepaskan. Kau terduduk. Aku meletakkan tanganmu, entah.. sambil melepas perasaanku. "Kau tau siapa penggenggam masa depan kita, hatimu perasaanmu, pun hatiku dan perasaanku? tak akan ada jaminan jika ditempuh dengan 'percobaan'. Kau tau arti keberkahan? perasaan tenang ketika kita bisa mengusahakan apa yang disukaiNya. Hanya lakukan apa yang Dia senangi, dan tinggalkan yang tidak Dia sukai. Ada yang tidak bisa kau pahami dari maksud pernyataanku?" ucapku tegas. Kau mengulas senyum tipis. "Aku tau prinsipmu itu, tapi apakah jika aku memberikan tawaran yang mungkin Dia ridho dengan hal itu kau akan bisa menjawab iya?" jawabmu. "Mungkin lebih baik kau tidak berfokus pada apa jawabanku, pikirkan tentang semua hal yang Dia inginkan dan apa yang tidak Dia kehendaki darimu, agar kau memperoleh keberkahan. Kau tau, setiap yang menjalankan apa-apa yang diperintahkan olehNya pasti akan memperoleh kebahagiaan. Bisa seperti yang  diharapkan, lebih dari yang diprediksikan, bahkan tidak sama sekali dengan yang dibayangkan. Tapi semua pasti membahagiakan karena Ia ridho, maka cukuplah bahagian dengan ridhonya," akhir kata-kataku menutup hatiku. Aku mengagumimu sebagai sosok yang kukira dapat mendekatkanku dengan Pemberi kebagahagiaan dan keteduhan dalam jiwa kita.  


#Mozaik 4
Aduhh, sayangnya belum diceritain lagi nih kelanjutan ceritanya. Setidaknya, kita bisa mendoakan yang terbaik untuk tokoh-tokoh diatas (aku, kamu, kita, teman-teman). Memang benar, biasanya otak dan hati itu sulit dikompromikan, nah disini ada iman sebagai sang mediator antara keduanya. Untuk menjawab pertanyaan gak harus cepet-cepet kok. Dipikir sing alon asal selamet, artinya: pelan-pelan asal selamat. Toh pertanyaan kayak gitu kan bukan bagian dari pertanyaan kuis siapa cepat dia dapat. Ingat saja, pacaran  atau coba-coba itu bukan bagian dari yang disukai Allah. Gak ada jaminan berkah dalam membina suatu hubungan kalau landasannya bukan dari praktik-praktik yang diridhoi Allah. Yakin dah. Hanya percaya Allah sebagai penggenggam hati dan pikiran kita. Hati dan pikiran mah mudah dibolak-balik, sekarang merasa suka, besok tiba-tiba tambaaah sukkaaa. ehehe.. siapa yang tau kan. Yang penting Lakukan Yang di Sukai Allah dan Tinggalkan yang Dibenci Allah.

Komentar

Postingan Populer