MenDukai Cinta dan MenCintai Duka

Alhamdulillah. Nulis blog di tengah kejenuhan skripsi di bagian analisis yang tentu akan berujung, amin.

Beranjak ke tahun 22, tanpa ditemani suara 'Surgaku'. Memori suara dalam otakku masih menyimpan rekaman 8 bulan + 2 hari lalu, 27 Mei 2011, beliau masih menelponku. Tak banyak berucap, hanya lirih memanggil namaku syahdu. Sedikit isakan tangisnya yang tertahan sayup-sayup berjejalan menyekat sempit rongga napasku. Aku hanya tersenyum, walaupun tau beliau tak melihatku. "istighfar ya Buk, atau sebut saja nama Alloh, insyaAlloh hari Rabu bisa balik Jombang" ucapku. Akhirnya, isakan itu mewujud dalam buliran air matanya. Tak ada kata, rasanya diam menjadi wahana mengucap salam perpisahan. Semoga beliau ridho kepadaku.. hanya saja aku tak sempat berucap, "aku sangat bangga dilahirkan menjadi anakmu".

27 Januari 2012, aku merindukan sapaanmu, tentu saja, yang paling kurindukan adalah doamu. Alhamdulillah, Bapak memberikan kado terbaik yang bisa ia berikan untuk putri dalam kerajaan kecilnya sekarang. Kukira kau juga akan tertawa jika mendengar cerita tentang kado itu Ibu. Ya, ini rahasia. InsyaAlloh akan kuceritakan padamu saat kita bertemu di Firdaus kelak. Amin. Bagaimanapun sekarang aku bahagia, dan kusadari apapun yang kudapat hingga hari ini adalah berkat doamu. Aku yakin doamu tak lekang oleh waktu.

Kucatat sebuah nasihat dari seorang kakak, bahwa kadar kedukaan adalah sama dengan kadar kecintaan. Ini yang aku rasakan. Sang kakak melanjutkan pesannya, "Namun, kedukaan yang disandarkan pada Alloh tidak akan menggontaikan dan kecintaan yang digantungkan karena Alloh tidak akan melalaikan". Aku bersyukur bisa mencitaimu dan berduka atasmu Ibuk. Semoga saja, ketiadaanmu menjadi cara bagi Alloh dalam mengajarkan anakmu agar semakin menyadari bahwa sepatutnya tempat bergantung hanya padaNya. Bukan kepada Ibu yang melahirkannya, menyusuinya, dan membesarkannya. Bukan pula pada Bapaknya yang mengasihinya, memberikannya makan, dan mengayominya. Bukan pada saudaranya yang menjadi tempat berbagi ceritanya dan mendukungnya, yah disela pertengkaran yang tak terelakkan pastinya, hehe. Semoga Alloh ridho kepadamu Ibuk, kepada Bapak, dan kepada anak-anakmu. Amin.

Komentar

Postingan Populer