Ilmu Kecoa, Insting Mencari Solusi
“Janganlah lambatnya masa pemberian Allah beserta terus-menerusnya
pemanjatan do’a menyebabkan keputusasaanmu, karena Dia menjamin ijabah do’a
untukmu ; di dalam apa yang Ia pilihkan untukmu, bukan di dalam apa
yang engkau pilih untuk dirimu sendiri, dan di dalam waktu yang Ia kehendaki,
bukan di dalam waktu yang engkau kehendaki”
(Al-Hikam : 6)
(Al-Hikam : 6)
Aku baru
baca cerita tentang cara kecoa ketika menghindari musuh. Saat kecoa ada di
ujung permukaan tipis, misal berupa tripleks, mereka akan terus maju. Mereka
akan menggunakan kaki paling belakang untuk mengaitkan tubuh pada tepian
permukaan. Selanjutnya, mereka bersembunyi di bawah permukaan itu. Check this
out.. (gambarnya sih kecoa, gecho, sama robot buatan yang didesign seperti kinerja "kecoa loncat")
Menurut
aku, insting kecoa menghadapi musuhnya itu cool alias kereen. Tapi lebih
keren lagi yang berkehendak dan memberi insting itu kepada si kecoa. Kecoa
hanya mengikuti instingnya untuk terus berjalan ketika dikejar. Terbang ketika
di ujung jalan untuk kemudian berpegang erat menunggu episode perjalanannya
selanjutnya. Si kecoa terlihat tidak ragu untuk terbang, meski dia juga tidak
bisa menjamin apakah kakinya kuat menopang tubuhnya untuk kemudian
bergelantungan di bawah.
Tapi subhanalloh, selalu ada jawaban atas setiap usaha yang dilakukan.
Tapi subhanalloh, selalu ada jawaban atas setiap usaha yang dilakukan.
Sama
halnya dengan ketika dikejar masalah. Tak usah takut dunia secara nyata menjadi
sangat sempit, peluh berkucuran menutupi sensor pencari jalan hingga kita tiba-tiba berdiri di ujung
jurang. Tak usah takut untuk loncat. InsyaAlloh, pasti ada solusi, ada cara, ada jawaban melewatinya. Tapiii, yang menjadi penting
untuk diperhatikan adalah, jangan lupakan doa-doa saat meloncat tadi. Eits, bukan maksudnya berdoa hanya ketika mepet sih. Dari awal, doa harus senantiasa jadi bahan bakar menguatkan kinerja “insting” kita agar selalu mendapat
rahmat Allah, pun saat terakhir di ujung tanduk. Kenapa harus doa? Yupss, doa.. karena doa adalah senjata seorang
mukmin, kekuatan doa itu dahsyat, melebihi kekuatan bulan si Sailormoon. Disana ada sebuah harapan dan tawakal yang disandarkan hanya kepada
Allah. Karena keyakinan kita akan keMahaBesaran Allah, karena kita tahunya
hanya Allah, hanya Allah, hanya Allah yang berkuasa atas segala hal. Dan gak
ada hal yang indah kecuali berharap hanya kepada Allah. Mana mungkin sih Allah
menelantarkan hambaNya yang meminta perlindunganNya. Jadi doa aja, bahkan di titik kita benar-benar gak bisa ngapa-ngapain (kecuali loncat :D). Cukup berdoa saja, biar Allah yang
menggiring kita pada solusi. Kecoa aja gak berdoa tetep kan ternyata digerakkan
juga untuk melawan musuh. Oiyah, loncatnya kecoa bukan indikator menghindari musuh lhoo. Tapi benar-benar cara melawan musuh. Kalau musuhnya emang gak tertangani, melawannya juga bisa dengan jalan loncat. Ciaaaat :D
Terus, kalau tanpa doa gimana donk? Apa insting tetep bisa kuat mencari solusi? Yups, insyaAlloh, tetep kok. Selalu ada juga jawabannya, Allah itu baik, sebuah keciscayaan bahwa bersama dengan masalah mengiringilah sebuah solusi. Tapi, menjadi berkah dan melapangkan dada gak? Itu selisihnya seorang mukmin yang berdoa dan tidak dalam menghadapi masalah. Ketenangan hati. Mungkin benar kita berhasil melewati atau menghadapi masalah-masalah yang menghadang, tapi boleh jadi dalam prosesnya hati rasanya keruh, kepala pusing, cemas, mengeluh, karena sandaran kita bukan Allah, hemmm, naudzubillah ya.. Semoga kita menjadi bagian dari hamba-hamba yang dimudahkan istiqomah berdoa dalam hal sekeciiiiiil apapun masalah atau keinginan kita. Hamasah :)
Komentar
Posting Komentar