Mencari Belahan Jiwa (Part 1)

Bismillah, Yang Memberikan Kebaikan pada setiap yang dikehendakiNya...

Alloh menciptakan orang berpasang-pasangan. Jika dikaji lebih dalam, kalimat tersebut memiliki banyak makna. Namun, untuk kali ini saya memaknainya sebagai ketentuan yang mungkin berhubungan dengan fitrah tiap insan dalam mencari bagian dari dirinya, pasangannya. Nah, gak main-main nih untuk membahas masalah mencari pasangan. Soalnya pasangan yang dimaksud adalah pasangan hidup.

Dari pengamatan tetangga, saudara, dan kawan-kawan disekitar, terus berakhir dengan kesimpulan saya sendiri, ternyata ada dua metode (haha, kata Mbak Maya ini bahasa intelek) dalam proses mencari pasangan. Baiklah, "metode" diganti saja dengan "cara" ya, biar lebih membumi. Ada cara "penjenjangan", ada cara "ribed". Cara Penjenjangan ditandai dengan adanya tingkatan-tingkatan untuk menunjukkan progresivitas hubungan dalam mencari pasangan. Sedangkan cara Ribed ditandai hal-hal yang abstrak di awalnya, susah dijelaskan, mungkin juga susah dijalani. Mungkin. Eheuheueheu. Aduh, sebenernya sulit untuk ngejelasin cara ribed tersebut. Bismillah, jika itu bermakna sebuah kebaikan semoga kita tetap bisa menjelaskan secara mudah. Bingung ya? Belum dijelasin juga apaan tuh cara ribed. Makanya, tetep pantau dan baca tulisan ini ya :D

Secara sederhana, cara penjenjangan itu alurnya adalah PDKT, Pacaran, Nikah (tentative). Level 1, PDKT alias pendekatan. Berupa tindakan-tindakan mendekati secara massive (aduhh, maaf saya gak menemukan kata yang lebih sederhana). Termasuk dalam level ini adalah sering ngajak ngobrol, nelpon (masih masuk kategori ngobrol ya? hehe), jalan, jalan lagi, jalan terus (capek deh). Level 2, "tembak". Artinya menanyakan kesediaan sasaran untuk menjadi pacar. Iya, PACAR "aja" lhoo, bukan pacar "bangeeet" (hagshagsss).

[Saya jadi kepikiran, kalau ada jawaban Iya dari pihak yang ditembak, maka level ini bisa disebut "tembak-tembakan" kali ya. Tahu kan tembak-tembakan? Kayak sejenis dari sebuah permainan anak-anak bukan sih? Semoga saja dalam dunia nyata prosesi tembak-tembakan dalam cara penjenjangan gak dimaknai sebagai permainan! Amiin.]

Akivitas di level ini juga hampir sama. Gak jauh-jauh dari ngobrol, nelpon, jalan. Yup, hanya saja intensitasnya lebih sering dan lebih dalam (atau bisa jadi lebih parah? keterlaluan intensnya, keterlaluan pula dalemnya. Naudzubillah). Meski, beberapa pendapat menyatakan bahwa pengalaman awal-awal pacaran itu indah bangettss, gak sekedar indah aja lhoo. Woww, cikicieww. Tapi bener nih indah?? Pas orang pacaran, segala kata yang diobrolin baik, pas nelpon baik, pas jalan baik, pas traktir baik, pas baik.. baik (yaiyalah). Pokoknya semuwa-muwa baiik dah. Akhirnya, dari level pacaran yang baik-baik ini naek lagi ke tangga pernikahan. Ecie-cie.. priwiiit. Indah yaa :)

Nah, kalau pas pacaran gak baik gimana? Kalau ngobrol udah gak nyambung, pas nelpon udah gak nyambung (meski ada unsur kesalahan jaringan), pas jalan udah gak nyambung (harusnya jalan, eh malah naik motor. Lhoo, semakin gak nyambung. Hehehek). Intinya pacaran gak berjalan baik, udah gak nyambung. Namanya aja udah gak nyambung, kalau dipahami berarti putus. Mulailah ada kata  PUTUS. Woadoow. Apa yang salah? level pedekatenya tuh. Nah lo, jadi perlu dipikir ulang lagi nih fungsi atau aktivitas dalam level 1. Fungsinya apa sih beraktivitas dalam level 1?? Nanti kita bahas ya.. InsyaAlloh.Putus sih bukan level 3, hanya sebuah raport yang bernilai bahwa dia ternyata bukan pasangan yang dicari. Dalam raport itu ada pesan juga, "Anda harus mengulang kelas sebelumnya". Hem, padahal kan udah nelpon-nelponan, jalan-jalanan, ini inian, itu ituan (ini asli transkrip dari informan). Tapi ini kan kalau putus ya, kalauuu, kalau semua hal berjalan baik dan menyenangkan hati maka tidak jarang pula proses ini naik ke level 3. Memutuskan untuk nikah. Ciyeee, priwiitt.

Pertanyaannya masih sama, beneran nihh, indah kalau dari pacaran kemudian naik ke level pernikahan?? kita simak lagi.

Di level 3, memutuskan untuk menikah karenaaa raport prosesi pacaran bernilai "baik" tadi.  Tapi kawan, sebuah hal kadang menjadi fakta yang sulit tertolak. Setelah pernikahan dilangsungkan, kebaikan-kebaikan tersebut bukan lagi menjadi sebuah kejutan istimewa yang menyemarakkan dunia rumah tangga. Atau justru -nauszubillah- ada kejutan-kejutan lain tapi berupa tingkah laku yang tidak sesuai dengan dulu pas pacaran. Simpulin sendiri aja yak, rasanya gimana kalau sudah begitu.

Penjelasan di atas itu tentang cara penjenjangan dalam mencari pasangan. Nah, setelah level 3 sedikit saja yang saya ungkapkan. Untuk lebih jauh lagi saya juga belum banyak tahu. Cukup tahu sih, tapi gak seberapa jauh untuk bisa mengulas. Penjelasan di atas sih gak saklek berjalan seperti yang sudah saya utarakan. Kadang jumpalitan,  dari yang putus nyambung putus nyambung putus nyambung. Sampai ada yang program percepatan -naudzubillah- (akselerasi). Dari PDKT langsung udah nelpon, jalan, pokoknya interaksi daleemmm banget. Ujug-ujug nikah, eh punya anak (eehhh). Yah, nampaknya tidak perlu saya ceritakan. Semoga kita terhindar dari hal-hal tersebut. Hehehe, terserah dah mau mengartkan apa. Terhindar dari yang cara penjenjangan atau percepatan :p

*Untuk Part dua bagian cerita ini judulnya Menyempurnakan Separoh Agama ya :D



Komentar

Postingan Populer