Bukan Perjalanan Masa Depan
Tuhanku, disegala musim yang selalu penyayang..
Ku langkahkan kaki, aku tak ingin terlambat. Bukan, bukan untuk memberikan kesan atau citra baik akan diriku pada seorang teman. Hanya saja ini pembuktian awal pada diriku sendiri. Tak ada siapa-siapa, kecuali bulan dan bintang yang tercecer bagai serpihan remah-remah kue kering di atas tikar berwarna hitam. Ada rasa was-was, selain karena sendirian juga dihantui pikiran akan masa depan. Aku takut sendirian, tapi lebih takut lagi memikirkan masa depanku akhir-akhir ini. Di hadapanku gelap, ditambah mata minus, tak berbayang sudah bagaimana mungkin aku dapat menangkap semua hal didepanku dengan jelas. Mungkin seperti itulah masa depan dalam benakku saat ini, masih sangat remang-remang.
Aku takut, tapi terus mencoba mengkaburkannya dalam langkah yang semakin cepat. Aku masih takut, kemudian mencoba melihat langit lagi.. Fajar akan menyingsing, aku teringat sebuah ayat yang menjelaskan bahwa pagi adalah salah satu bentuk nikmat Allah agar manusia dapat mengambil segala macam karuniaNya yang tersebar di muka bumi. Kalau di Jawa biasa dikatakan "isuk-isuk ndang tangi ndang nyambut gawe, selak rejekine dijupuk pitik", maksudnya secara sederhana adalah bangun pagi biar rizkinya gak dipatok ayam. Yah, apapun bahasanya aku hanya berpikir bahwa memang kewajiban kita untuk bangun pagi. Bagaimanapun sholat subuh (atau bahkan mungkin tahajud) harus ditunaikan mendahului apapun kepentingan kita dalam mencari harta berlimpah ruah.
Benar kiranya, semakin aku terus maju.. terus melangkah.. terus menepis rasa takutku.. semakin dapat berbaur dengan kondisi di depanku lagi. Sudah mulai hiruk-pikuk. Jalan Margonda Raya arah Jakarta menggila. Maksudku "menggila" oleh mobil-mobil dan motor yang dikendarai dengan kecepatan lumayan tinggi oleh pengemudinya. Ini kondisi di kota, tontonan ajang balap kendaraan bukan untuk melihat mesin kendaraan siapa yang tercepat dan paling oke pengendaranya, tapi melihat gambaran semangat mereka di dalam mencari nominal-nominal dalam uang receh dan kertas. Jadi, pesan utama ketika kau ingin "membubarkan ajang balap kendaraan" tersebut adalah TENGOK KIRI-KANAN. Maka di sisi arah kanan aku berhenti sejenak. Di tengah pemberhentianku itu berkelebat sebuah pikiran gila, "andai saat ini aku memutuskan berputus asa, mungkin aku akan mencoba menerjang ke depan secara dadakan saja, ini tentu akan menyemarakkan pagi ini". Aku hanya tersenyum mengendapkan ide gila dalam otakku yang masih sehat wal'afiat.
Saat ini aku masih berada dalam kondisi tersenyum dan menganalisis kemungkinan agar aku secepatnya berada di seberang. Ini dari awal memang bukan tontonan racing, tak ada alasan untuk hanya diam melihat tanpa sorak. Akhirnya aku beringsut maju dan kulihat sorot lampu beberapa dari "para pembalap" itu berkedip-kedip. Aku tersenyum lagi menyadari perjalanan ambisius mereka yang mungkin tak ingin terusik. Apakah mereka juga tak mengerti bahwa aku juga ingin segera duduk di kereta. Bila terlambat sedikit sudah tentu kakiku ini harus kupersiapkan menopang berat tubuhku selama satu jam, alias aku harus berdiri di kereta. Menyadari hal itu aku tersenyum kecewa, "ternyata perjalananku hari ini tidak lain hanya terperosok pada kategori perjalanan ambisius juga. Duhai Tuhanku, aku tak ingin menjadi ambisius, apalagi hal tersebut akan melekat dalam setiap perjalanan masa depanku. Haha, tapi untunglah ini bukan perjalan masa depanku, jadi tak apalah sekarang ambisius dan habislah kau ambisius di perjalanan ini!". Jika kau tau kawan, inilah penyakitku, terlalu banyak berpikir kemudian menanggapinya dengan seulas senyum yang kadang manis tapi tak jarang juga getir...
Akhirnya aku sampai di stasiun, hingga aku telah berada di dalam kereta.. berdiri. Dari awal memang tak seharusnya dapat berpikir akan dapat tempat duduk. Itu seperti berharap bisa menemukan jarum dalam tumpukan jerami. Bukannya tidak mungkin, hanya saja bila dalam kondisi ini dapat terjadi mungkin bisa disebut sebagai keajaiban hidup. Kereta melaju, membawa setiap orang dan barang-barang mereka ke lokasi-lokasi yang mereka tuju. Aku berpkir lagi, enaknya jadi masinis. Betapa ia bekerja selain dapat gaji juga banyak membawa kebermanfaatan bagi pihak lain. Tentu semuanya akan dinilai lagi dari niat, seperti yang sering didengungkan salah seorang saudara kontrakanku, innamal a'malu bin niyat Ay.
Aku sampai, aku tak pernah ke lokasi ini. Nada sms berdengung, "aku baru di tol, maaf ya". Tak ada alasan untuk menggerutu, aku sudah berada di lokasi ini. Kalau pun aku balik pulang ke rumah akan lebih baik daripada sekedar ngedumel atas budaya telat ini. Aku menuju lokasi yang sekiranya mudah untuk menjadi titik pertemuanku dengannya yang sedang bermacet-macet ria di tol saat ini. Aku mengetik pesan singkat bahwa "aku baik-baik saja" dan meminta segera menemuiku ketika dia sampai. Aku duduk sebentar di tangga masuk gedung pusat perbelanjaan itu. Kuli-kuli panggul dengan seragam kuning bergumul dengan kotak-kotak pakaian yang entah mungkin ratusan jumlahnya, yang pasti para kuli tersebut harus membongkar muat seluruh isi di dalam truck-truck di hadapannya. Mereka seorang Ayah, ini hanya kutebak dari wajah mereka yang sudah tidak muda. Mereka adalah Ayah, Bapak, Abi atau entah apa sebutan lain sejenis itu bagi anak-anak dan istrinya. Tuhanku dan Tuhan para kuli, saksikanlah mereka, ringankan beban yang harus mereka bawa. Luaskan sabar, luaskan syukur, cukupkan kebutuhan keluarga mereka. Mudahkanlah hisab mereka karena mereka telah berpayah dalam memperjuangkan kemudahan bagi anak dan istri mereka. Amin. Tuhanku, Tuhan pencipta pagi indah ini.. perbaikilah kemampuanku agar esok di pagi hari masa depanku niatku hanya untukMu, semangatku membara mencari ridho dan karuniaMu, adaku untuk kebermanfaatan bagi banyak pihak disekitarku khususnya aku sendiri, mantapkan hati ini untuk yakin dan konkrit takwa hanya padaMu. Semoga perjalanan masa depanku terus Engkau naungi dengan cintaMu. "Dimana?" pesan singkat mengakhiri bisikan doaku dan awal kemantapan hatiku melenggang senang di atas masa depanku...
Ku langkahkan kaki, aku tak ingin terlambat. Bukan, bukan untuk memberikan kesan atau citra baik akan diriku pada seorang teman. Hanya saja ini pembuktian awal pada diriku sendiri. Tak ada siapa-siapa, kecuali bulan dan bintang yang tercecer bagai serpihan remah-remah kue kering di atas tikar berwarna hitam. Ada rasa was-was, selain karena sendirian juga dihantui pikiran akan masa depan. Aku takut sendirian, tapi lebih takut lagi memikirkan masa depanku akhir-akhir ini. Di hadapanku gelap, ditambah mata minus, tak berbayang sudah bagaimana mungkin aku dapat menangkap semua hal didepanku dengan jelas. Mungkin seperti itulah masa depan dalam benakku saat ini, masih sangat remang-remang.
Aku takut, tapi terus mencoba mengkaburkannya dalam langkah yang semakin cepat. Aku masih takut, kemudian mencoba melihat langit lagi.. Fajar akan menyingsing, aku teringat sebuah ayat yang menjelaskan bahwa pagi adalah salah satu bentuk nikmat Allah agar manusia dapat mengambil segala macam karuniaNya yang tersebar di muka bumi. Kalau di Jawa biasa dikatakan "isuk-isuk ndang tangi ndang nyambut gawe, selak rejekine dijupuk pitik", maksudnya secara sederhana adalah bangun pagi biar rizkinya gak dipatok ayam. Yah, apapun bahasanya aku hanya berpikir bahwa memang kewajiban kita untuk bangun pagi. Bagaimanapun sholat subuh (atau bahkan mungkin tahajud) harus ditunaikan mendahului apapun kepentingan kita dalam mencari harta berlimpah ruah.
Benar kiranya, semakin aku terus maju.. terus melangkah.. terus menepis rasa takutku.. semakin dapat berbaur dengan kondisi di depanku lagi. Sudah mulai hiruk-pikuk. Jalan Margonda Raya arah Jakarta menggila. Maksudku "menggila" oleh mobil-mobil dan motor yang dikendarai dengan kecepatan lumayan tinggi oleh pengemudinya. Ini kondisi di kota, tontonan ajang balap kendaraan bukan untuk melihat mesin kendaraan siapa yang tercepat dan paling oke pengendaranya, tapi melihat gambaran semangat mereka di dalam mencari nominal-nominal dalam uang receh dan kertas. Jadi, pesan utama ketika kau ingin "membubarkan ajang balap kendaraan" tersebut adalah TENGOK KIRI-KANAN. Maka di sisi arah kanan aku berhenti sejenak. Di tengah pemberhentianku itu berkelebat sebuah pikiran gila, "andai saat ini aku memutuskan berputus asa, mungkin aku akan mencoba menerjang ke depan secara dadakan saja, ini tentu akan menyemarakkan pagi ini". Aku hanya tersenyum mengendapkan ide gila dalam otakku yang masih sehat wal'afiat.
Saat ini aku masih berada dalam kondisi tersenyum dan menganalisis kemungkinan agar aku secepatnya berada di seberang. Ini dari awal memang bukan tontonan racing, tak ada alasan untuk hanya diam melihat tanpa sorak. Akhirnya aku beringsut maju dan kulihat sorot lampu beberapa dari "para pembalap" itu berkedip-kedip. Aku tersenyum lagi menyadari perjalanan ambisius mereka yang mungkin tak ingin terusik. Apakah mereka juga tak mengerti bahwa aku juga ingin segera duduk di kereta. Bila terlambat sedikit sudah tentu kakiku ini harus kupersiapkan menopang berat tubuhku selama satu jam, alias aku harus berdiri di kereta. Menyadari hal itu aku tersenyum kecewa, "ternyata perjalananku hari ini tidak lain hanya terperosok pada kategori perjalanan ambisius juga. Duhai Tuhanku, aku tak ingin menjadi ambisius, apalagi hal tersebut akan melekat dalam setiap perjalanan masa depanku. Haha, tapi untunglah ini bukan perjalan masa depanku, jadi tak apalah sekarang ambisius dan habislah kau ambisius di perjalanan ini!". Jika kau tau kawan, inilah penyakitku, terlalu banyak berpikir kemudian menanggapinya dengan seulas senyum yang kadang manis tapi tak jarang juga getir...
Akhirnya aku sampai di stasiun, hingga aku telah berada di dalam kereta.. berdiri. Dari awal memang tak seharusnya dapat berpikir akan dapat tempat duduk. Itu seperti berharap bisa menemukan jarum dalam tumpukan jerami. Bukannya tidak mungkin, hanya saja bila dalam kondisi ini dapat terjadi mungkin bisa disebut sebagai keajaiban hidup. Kereta melaju, membawa setiap orang dan barang-barang mereka ke lokasi-lokasi yang mereka tuju. Aku berpkir lagi, enaknya jadi masinis. Betapa ia bekerja selain dapat gaji juga banyak membawa kebermanfaatan bagi pihak lain. Tentu semuanya akan dinilai lagi dari niat, seperti yang sering didengungkan salah seorang saudara kontrakanku, innamal a'malu bin niyat Ay.
Aku sampai, aku tak pernah ke lokasi ini. Nada sms berdengung, "aku baru di tol, maaf ya". Tak ada alasan untuk menggerutu, aku sudah berada di lokasi ini. Kalau pun aku balik pulang ke rumah akan lebih baik daripada sekedar ngedumel atas budaya telat ini. Aku menuju lokasi yang sekiranya mudah untuk menjadi titik pertemuanku dengannya yang sedang bermacet-macet ria di tol saat ini. Aku mengetik pesan singkat bahwa "aku baik-baik saja" dan meminta segera menemuiku ketika dia sampai. Aku duduk sebentar di tangga masuk gedung pusat perbelanjaan itu. Kuli-kuli panggul dengan seragam kuning bergumul dengan kotak-kotak pakaian yang entah mungkin ratusan jumlahnya, yang pasti para kuli tersebut harus membongkar muat seluruh isi di dalam truck-truck di hadapannya. Mereka seorang Ayah, ini hanya kutebak dari wajah mereka yang sudah tidak muda. Mereka adalah Ayah, Bapak, Abi atau entah apa sebutan lain sejenis itu bagi anak-anak dan istrinya. Tuhanku dan Tuhan para kuli, saksikanlah mereka, ringankan beban yang harus mereka bawa. Luaskan sabar, luaskan syukur, cukupkan kebutuhan keluarga mereka. Mudahkanlah hisab mereka karena mereka telah berpayah dalam memperjuangkan kemudahan bagi anak dan istri mereka. Amin. Tuhanku, Tuhan pencipta pagi indah ini.. perbaikilah kemampuanku agar esok di pagi hari masa depanku niatku hanya untukMu, semangatku membara mencari ridho dan karuniaMu, adaku untuk kebermanfaatan bagi banyak pihak disekitarku khususnya aku sendiri, mantapkan hati ini untuk yakin dan konkrit takwa hanya padaMu. Semoga perjalanan masa depanku terus Engkau naungi dengan cintaMu. "Dimana?" pesan singkat mengakhiri bisikan doaku dan awal kemantapan hatiku melenggang senang di atas masa depanku...
Komentar
Posting Komentar