Wake Up

Bismillah, lama rasanya gak coret-coret (lagaknyaa suka nulis aje ^^)

Ada berita duka nih (iringkan Al-Fatihah ya sahabat). Ibuku meninggal, Sabtu, 28 Mei 2011. Saya baru mendengar beritanya pukul 23.30.. tepat ketika saya selesai meletakkan mukena, tepat ketika pukul 20.00 saya menyiapkan daster baru untuk Ibu, tepat ketika pukul 17.30 beliau mengucap namaku lembut, tepat ketika pukul 17.00 saya berpikir bagaimana jika saya ditinggal Ibu, tepat ketika seminggu sebelumnya saya bermimpi pulang kerumah dan tidak bertemu dengan beliau. 
Allah yang tau seperti apa lemahku saat itu. Bersyukur ada mbak Fhi, mbak Ita, dan mbak Icha yang menguatkan saat kakiku lemas dan air mataku luruh satu persatu. Semoga saat itu keberkahan dan pintu-pintu rahmatNya menanungi Ibuku, bapak dan saudaraku, sekaligus saudara kontrakanku itu. Ya, semua adalah milikNya dan kembali kepadaNya. 
Sehari berlalu, dengan senyum dan sorot mata penuh empati dan simpati dari kerabat, teman, dan tetangga. Kujalani hari itu dengan bersemangat. Kelegaanku bersumber dari momen ketika aku melihat wajah teduh Ibuku dan ketika kucium dingin keningnya. Lama tak bersua dengannya, aku hanya merindukannya. 
Hari kedua, setiap aku melihat sisi-sisi jalan yang ada adalah wajah Ibuku di pelupuk mata. Memori otakku memutar masa lalu saat aku bercanda riang dengan Ibuku, saat aku berceloteh impianku, bahkan saat beliau memelukku erat dikala hasil SIMAK UI diumumkan. Ia mungkin merasakan bahwa aku akan berpisah dengannya untuk waktu yang lama.. hingga akhir hayatnya. Aku akan lulus depan, beliau sangat antusias untuk melihatku memagai toga. Ketika aku berpikir masa depan tanpa beliau rasanya senyum ini menguncup, dada ini bergemuruh, sesak.. hingga aku menangis, menangis, dan menangis lagi. Kuhampiri bahu mbak Itaku, dia adalah sandaran hatiku sejak dulu. Namun, ia berbisik, "jangan seperti ini, kasihan Ibu, aku jadi ingin menangis..". Aku tak ingin larut dalam kesedihan, apalagi mengajak seseorang untuk bersedih. (senang massal tak apa, kalo sedih mah sendiri aja^^) 
Aku menarik diriku dalam pelukannya. Bergegas mengambil wudhu. Aku hamparkan sajadahku dengan hati luruh, separuh hatiku pergi, masa depan dalam bayanganku buram. Aku menyebut namaNya Yang Maha Besar, pemilik bumi dan segala isinya. Kukatakan lantang dalam hati kepada Ia yang sedang kutuju, "Rabbi, apa yang akan terjadi pada kehidupanku ketika aku tak memiliki tuhan dunia?". Engkau tau sahabat, sayup terdengar di telingaku.. "inna sholaatii, wanusukii, wamahyaaya, wamamaatii, lillahirabbil 'aalamiin". Tubuhku bergetar dahsyat, air mataku tiada henti bercucuran, sesaat aku dihentakkan pada kenyataan bahwa "seungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Alloh Penguasa Alam". Rabbi, betapa Engkau Maha Besar, tak ada tuhan selain Engkau. Ibuku adalah bagian terindah yang mendekatkan hamba padaMu, maka luaskanlah kuburnya, terangkanlah kuburnya, sejukanlah kuburnya, damaikanlah jiwanya, ampunkanlah dosanya, jauhkan dari siksa kubur dan nerakaMu, kasihi ia, golongkan kepada orang-orang yang Engkau beri rahmat dan syafaat, pertemukan kami di FirdausMu kelak. Amin. Kurangkai senyum dengan pasti, tak ada alasan untuk bersedih. Tiada kejadian yang luput dari Allah, tidak ada pengawasan yang keluar dari kuasa Allah. Innalloha ma'ana. :)
Senin, 12 September 2011, pkl.03.30.. aku melihatnya, itu Ibuku. Duduk dengan wajah tersenyum mengarah ke aku. Kupanggil ia, "Ibu, ibu.. aku ingin ikut denganmu ya". Ia hanya berucap, "jangan, kau harus tetap semangat". Dia mengepalkan tangannya ke atas sebagai tanda semangat. Aku membuka mata, itulah seulas salam hangat dan semangat perpisahan dari Ibuku, tepat ketika semester 7 dimulai. Kulanjutkan hariku hingga saat ini tanpa Ibuku di dunia, doakan sahabat agar aku kelak bertemu di FirdausNya. Amin.  
Itu adalah episode hidupku, kalian tentu akan mengalaminya, atau bahkan sudah mengalaminya. Saat masa itu tiba, atau bahkan saat rindu itu hadir, mari kita bersama yakin kembali bahwa Allah selalu bersama dengan kita. Bahwa sabar yang terjaga itu adalah amalan kita sekaligus wahana untuk dekat denganNya. Semakin sadar kekuasaanNya, semakin menyadari kelemahan kita, insyaAlloh semakin taat kepadaNya. Amin. Semoga aku mendapat pengganti yang kecintaan dan ketulusannya melebihi Ibuku, ya minimal sama lah, 11 12, Amin. Maksudku adalah Ibu Mertua, wkwkwk, tentu saja dibalik Ibu Mertua penyabar dan penyayang ada anaknya yang terkasih. Eheuheueheuehue. Doakan saja sahabat doaku terkabul kelak. Mendapatkan Ibu mertua yang seperti Ibuku sendiri plus anaknya yang sholeeehh. Amin :D

Komentar

  1. amiiiiiinnn... dapat ibu mertua yang sayang + anaknya yang sholeehh... wkwkwkwkwk...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer